Pikiran Rakyat, No 199 Tahun XLIV - Tahun Republik LXIV, edisi Sabtu, 17 Oktober 2009
Lebih baik menjadi pelukis yang luar biasa daripada menjadi
dokter yang biasa-biasa saja. Pernyataan inilah yang sering diulang oleh ahli
bedah bisnis, Rhenald Kasali (49). Akan tetapi bukan berarti
dia ingin beralih profesi. Dia hanya mengkritisi banyaknya anak muda yang
memilih jurusan atau sekolah, hanya karena sekolah atau jurusan itu favorit
tanpa mempertimbangkan kebutuhannya. “Sistem yang ada pada pendidikan kita
membuat siswa menjadi misalokasi”, kata pengusaha
yang juga pengajar di sejumlah perguruan tinggi ini.
Menurut dia, perguruan tinggi banyak mencetak lulusan di
suatu bidang yang dianggap favorit, tetapi hanya melahirkan sedikit sekali
lulusan di bidang tertentu yang sebenarnya sangat dibutuhkan. “Kalau saya,
mending menjadi pelukis yang luar biasa daripada menjadi dokter yang
biasa-biasa saja. Buat apa?”, kata pria kelahiran Jakarta, 13 Agustus 1960 ini.


